Kebahasaan Kelas 8

KEBAHASAAN SMP Kelas VIII

Oleh : Drs.M.Effendy

 

A. Majas

1. Majas perbandingan

a. Perumpamaan

Contoh: Sifat kedua anak itu bagai langit dan bumi.

b. Metafora

Contoh: Karena seorang lintah darat, ia dijauhi penduduk.

c. Personifikasi

Contoh: Bulan tersenyum menyaksikan keguyuban anak-anak dolanan di halaman rumah.

2. Majas pertentangan

a. Hiperbola

Contoh: Tono bekerja membanting tulang untuk membiayai sekolahnya.

b. Litotes

Contoh: Mampirlah ke gubuk kami sekadar melepas penat.

c. Ironi

Contoh: Disiplin sekali Anda, tiga hari berturut-turut terlambat sampai sekolah!

3. Majas pertautan

a. Metonimia

Contoh: Para siswa karya wisata ke Bali naik Garuda.

b. Sinekdoke

Contoh: Karena kedisiplinan dan kerja sama antarpemain, Indonesia menang atas Bahrain 2-1.

c. Alusio

Contoh: Ia pun setali tiga uang dengan kakaknya kalau disuruh belajar.

d. Eufemisme

Contoh: Karang Taruna Putra Bangsa menciptakan unit usaha produktif untuk mengurangi  tunakarya.

Kata berawalan me-

Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini.

1. Ibu menulis cerpen.

2. Kakek Antonio mencangkul tanah.

3. Sapi menguak.

4. Radio anak mengudara.

5. Pelajar tidak boleh merokok.

Kata-kata berawalan me- pada contoh-contoh itu berjenis kata kerja aktif. Fungsi utama awalan me- adalah membentuk kata kerja.

Adapun arti awalan me- adalah sebagai berikut.

1. Melakukan pekerjaan

Contoh: Ida membaca naskah drama. (melakukan pekerjaan membaca)

2. Mengeluarkan

Contoh: Anjing menggonggong. (mengeluarkan gonggongan)

3. Menjadi

Contoh: Sobekan di celananya melebar. (menjadi lebar)

4. Menyerupai

Contoh: Karena tidak memerhatikan lingkungan, sampah di kota ini menggunung. (menyerupai gunung)

5. Menuju ke

Contoh: Garuda Indonesia mendarat di Bandar Udara Adisutjipto. (menuju ke darat)

Peribahasa

Peribahasa merupakan kelompok kata yang tetap susunannya dan biasanya mempunyaiarti khusus atau kias.

CONTOH

Mereka menggambarkan peristiwa itu sebagai pagar makan tanaman.

Pagar makan tanaman” merupakan peribahasa, artinya orang merusak barang yang diamanatkan. Peribahasa umpama hiasan dalam kata-kata. Melalui peribahasa, kamu bisa menyentil seseorang, tidak perlu menggunakan kata-kata tajam dan kasar yang malah melukai perasaan orang lain. Lewat peribahasa, kamu dapat memberi nasihat, pujian yang boleh jadi lebih mengesankan ketimbang berkata terus terang

Kata Berantonim, Bersinonim, dan Berpolisemi

Pada kutipan wawancara dengan Tukul Arwana terdapat kata yang menarik untuk disimak, yakni sebagai berikut.

1. Kabarnya semenjak jadi presenter Empat Mata honor Mas Tukul melonjak tinggi sampai

Rp30.000.000,00 ya?

2. Dulunya sih punya keinginan untuk menjadi seorang insinyur, tetapi malah melintir jadi pelawak.

Kata melonjak dan melintir merupakan variasi pilihan kata dari kata yang umum digunakan, yaitu naik untuk kata melonjak dan beralih untuk kata melintir. Ungkapan kata-kata yang memiliki hubungan makna tersebut dinamai antonim..

Kata bersinonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama.

 

Contoh:

1. mengandung, hamil, bunting

2. mati, wafat, gugur, tewas, mangkat

3. pandai, pintar, cerdas, genius

4. roboh, tumbang, ambruk, ambrol, runtuh

 

Contoh dalam kalimat:

1. a. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas.

b. Siswa pintar itu mewakili Indonesia pada Olimpiade Fisika.

2. a. Gubuk itu roboh tertimpa badai.

b. Gubuk itu ambruk tertimpa badai.

3. a. Pahlawan kemerdekaan adalah orang yang wafat di medan juang.

b. Pahlawan kemerdekaan adalah orang yang gugur di medan juang.

Kata berantonim sebagai nama lain untuk benda atau hal lain yang maknanya berlawanan.

Contoh:

pandai >< bodoh panjang >< pendek

utara >< selatan rajin >< malas

 

Contoh dalam kalimat:

1. Siswa pandai-bodoh asalkan rajin belajar akan bisa meraih sukses.

2. Pada tiap atas-bawah pagar itu dicat merah.

Polisemi adalah satu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Polisemi timbul karena

perkembangan makna suatu kata.

 

Contoh:

jatuh

1. Didih jatuh di ronde pertama.

2. Nilai matematika Azizah tahun ini jatuh.

3. Setelah kehujanan, Desi jatuh sakit.

kepala

1. Ayah minta dibelikan obat sakit kepala.

2. Tiap kepala mendapat jatah Rp10.000,00.

3. Kepala kereta itu siap dilangsir.

 

Kata Depan dan Kata Sambung

Pada naskah berjudul Inovasi Teknologi ala Siswa SMP tersebut kamu bisa menemukan beberapa kata depan dan kata sambung. Situs bahasa berikut kita pelajari kata depan dan kata sambung yang merupakan bagian dari jenis kata tugas.

 

1. Kata depan

Kata depan merupakan kata yang bertugas menghubungkan kata atau bagian kalimat.

Berikut contoh-contoh kalimat yang mengandung kata depan dan fungsinya.

a. Mantan pengibar bendera Merah Putih itu berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam.

Musafir itu kembali dari perantauan setelah mendapat banyak ilmu hidup.

Tono pergi dari rumah pamannya kemarin.

dari: menandai hubungan asal, arah dari suatu tempat, atau milik

b. Fira berkunjung ke Perpustakaan Daerah Maluku dengan kakaknya.

Kamu pasti lulus asal belajar dengan rajin.

dengan: menandai hubungan kesertaan atau cara

c. Mereka menyelesaikan tugas kerajinan tangan di lantai.

di: menandai hubungan tempat berada

d. Dian dan kawan-kawan melakukan penelitian ke candi Borobudur.

ke: menandai hubungan arah menuju suatu tempat

e. Karya ilmiah tentang jamur ini dipublikasikan oleh siswa teladan itu.

oleh: menandai hubungan pelaku atau yang dianggap pelaku

 

f. Pada sebuah rak mereka menemukan judul novel ini.

Pencinta alam sekolah kami mencapai puncak gunung pada pukul 05.00 WIB.

pada: menandai hubungan tempat dan waktu

g. Kedua anak itu bersahabat sejak sama-sama duduk di bangku SD.

sejak: menandai hubungan waktu dari saat yang satu ke saat yang lain

h. Kumpulan puisi tersebut buat anak-anak korban banjir.

bagi, untuk, buat, guna: menandai hubungan peruntukan

i. Andri tidak naik kelas karena sering bolos.

Karena, sebab: menandai hubungan sebab (penyebaban)

 

2. Kata sambung

Kata sambung adalah kata yang berfungsi untuk menyambung kalimat atau anak kalimat.

a. Kami akan berlatih futsal kalau tidak hujan.

kalau: menandai hubungan syarat

b. Asita sibuk membersikan rumah, tetapi Fendi duduk santai.

tetapi: menandai hubungan pertentangan

c. Kita harus kompak agar memenangi lomba ini.

agar: menandai hubungan tujuan

d. Dia bukan pamanku, melainkan teman bapak.

melainkan: menandai hubungan perlawanan.

Makna Denotasi dan Makna Konotasi

Pada naskah berjudul Pelajar SMPN Ciawi Memenangkan Lomba Penelitian Nasional tersebut terdapat kalimat berikut.

Karya keduanya replika pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mencuri perhatian dewan juri.

Kata mencuri pada kalimat tersebut menimbulkan perasaan atau pikiran positif pada diri kita mengenai kata perhatian yang bisa dicuri. Ini merupakan makna bukan sebenarnya.

 

 

 

1. Makna denotasi

Makna denotasi adalah makna sebenarnya, didasarkan atas penunjukan yang lugas di luar bahasa, bersifat objektif.

Contoh: Toni melihat burung-burung kuntul.

 

2. Makna konotasi

Makna konotasi ialah makna bukan sebenarnya, didasarkan atas perasaan atau pikiran yang ditimbulkan. Ada makna konotasi positif, makna konotasi negatif, dan makna konotasi netral (tidak memiliki nilai rasa).

Contoh: Toni mengamati burung-burung kuntul.

Kalimat Majemuk

Pada naskah berita berjudul Perjuangan Menggapai Cita-cita tersebut terdapat kalimat berikut.

Meskipun tinggal di daerah terpencil, siswa SMP Negeri Kofiau ini sarat prestasi. Kalimat tersebut dinamakan kalimat majemuk bertingkat karena terdiri atas dua kalimat tunggal yang tidak sederajat, yaitu anak kalimat dan induk kalimat. Adapun kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai lebih dari satu pola kalimat. Ini berbeda dengan kalimat tunggal yang hanya memiliki satu pola kalimat.

Ada beberapa jenis kalimat majemuk.

1. Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang memiliki pola-pola kalimat yang sama derajatnya.

Contoh: Guru menjelaskan kalimat tunggal dan majemuk dan siswa memperhatikan materi tersebut.

2. Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang kedudukannya tidak sederajat. Bagian kalimat yang menduduki fungsi lebih tinggi dinamai induk kalimat, sedangkan fungsi yang lebih rendah disebut anak kalimat.

Contoh:

a. Anak yang berbaju hijau itu memenangi lomba catur tingkat nasional. (anak kalimat perluasan subjek)

b. Kerajinan tangan itu bahannya terbuat dari benda yang elastis. (anak kalimat perluasan predikat)

c. Dewi menjual barang untuk membersihkan peranti komputer. (anak kalimat perluasan objek)

d. Tina mengerjakan pekerjaan rumah setelah sinar matahari meredup. (anak kalimat perluasan keterangan waktu)

3. Kalimat majemuk campuran ialah kalimat majemuk yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat, yakni terdiri atas dua pola kalimat yang sederajat dan yang lain bertingkat.

Contoh:

a. Satu pola utama dan dua pola bawahan

Anak-anak mengumpulkan tugas mendengarkan berita, setelah beberapa minggu dan didiskusikan oleh anggota kelompok.

b. Dua pola utama dan satu atau lebih pola bawahan

Pak guru menulis di papan tulis dan meminta para siswa mengerjakan tugas itu, yang akan dikumpulkan sebagai tugas individu.

Kata Bilangan

Pada teks tentang diskusi tersebut terdapat kalimat berikut.

”Baiklah. Ketiga pendapat ini kita jadikan acuan dalam diskusi ini untuk mengambil

keputusan. Silakan ada pemikiran yang lain?”

Kata ketiga dalam kalimat tersebut merupakan kata bilangan. Kata bilangan ialah katakata yang menyatakan jumlah, satuan kumpulan benda, maupun urutan tempat dari namanama benda. Ragam kata bilangan sebagai berikut.

1. Kata bilangan utama merupakan kata bilangan yang memberi keterangan jumlah hal atau barang. Contoh: satu motor, dua buah, tiga pohon, empat lembar, dan sebagainya.

2. Kata bilangan tingkat merupakan kata bilangan yang menjelaskan urutan ke berapa keberadaan suatu benda. Kata bilangan ini diletakkan sesudah kata benda. Contoh: meja keenam, rak kesepuluh.

3. Kata bilangan kumpulan merupakan kata bilangan yang menjelaskan jumlah barang dalam suatu himpunan. Kata bilangan ini diletakkan sebelum kata benda. Contoh: keenam meja itu, kesepuluh rak tersebut.

4. Kata bilangan tak tentu ialah kata yang menjelaskan jumlah barang dalam satu himpunan.

Kata-kata yang biasa digunakan adalah tiap-tiap, semua, beberapa, dan segala. Contoh: Tiap-tiap anak diwajibkan membaca minimal 3 novel.

Kata berawalan di-

Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini!

1. Cerpen ditulis ibu.

2. Tanah dicangkul Kakek Antonio.

3. Kain ditenun nenek.

4. Puisi dibaca Novi.

5. Koran bekas dijual Santoso.

Kata-kata berawalan di- pada contoh-contoh itu berfungsi membentuk kata kerja pasif.

Kata berawalan di- merupakan pengubahan dari kata kerja aktif transitif, bukan kata kerja intransitif.

 

Catatan : Kata kerja transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek kalimat.

Contoh: Ia pergi melihat pertunjukan teater.

Kata kerja intransitif merupakan kata kerja yang tidak memerlukan objek kalimat.

Contoh: Prestasi olahraga SMP kami menurun.

Partikel -lah dan -kah

Partikel -lah

Kamu tentu pernah menyampaikan sesuatu hal kepada teman-temanmu. Kamu juga pernah bertanya tentang sebuah permasalahan atau menyuruh orang lain. Saat menyampaikan, bertanya, dan menyuruh kamu memerlukan partikel –lah dan –kah.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

1. Dialah yang mengakibatkan masalah ini terjadi.

2. Saat inilah kamu harus belajar.

3. Tidurlah segera agar besok segar kembali.

4. Lihatlah betapa dia tidak bisa mengerjakan tugas dengan baik.

Partikel –lah pada kalimat nomor 1 dan 2 digunakan untuk menegaskan bagian kalimat yang dipentingkan, yaitu kata dia dan kata ini.

Partikel –lah pada kalimat nomor 3 dipakai untuk menghaluskan permintaan, yaitu permintaan

untuk tidur.

Partikel –lah pada kalimat nomor 4 untuk menguatkan perintah untuk melihat pekerjaan seseorang.

Partikel -kah

Perhatikan contoh kalimat berikut.

1. Mampukah kamu menyelesaikan tugas ini?

2. Akankah dia datang hari ini?

Partikel –kah pada kedua kalimat tersebut untuk menegaskan bagian atau kelompok  kata yang dipentingkan.

Kata Baku dan Kata Serapan

Setelah membaca wacana berjudul Berlibur Sambil Mengenal Alam, apakah kamu menemui kata atau istilah yang tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia alias tidak baku? Dalam situs bahasa ini, kamu akan mempelajari kata baku dan kata serapan.

 

1. Kata Baku

Kata baku ialah kata yang distandarkan berdasarkan kesepakatan untuk dijadikan rujukan atau dasar. Kata baku dibukukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

 

2. Kata Serapan

Kata serapan atau kata pungut adalah kata-kata yang diambil dari bahasa daerah atau bahasa asing untuk menambah perbendaharaan kata bahasa Indonesia dengan  adaptasi seperlunya. Adapun kata-kata yang sudah lazim dieja secara bahasa Indonesia langsung diadopsi tanpa perlu lagi diubah ejaannya.

Kata Kajian dan Populer

Perhatikan wacana berikut!

Perjalananku ke kota Malang memang sangat istimewa.

Selain tempat yang kukunjungi sangat indah, gedunggedungnya pun dibangun dengan arsitektur gaya Eropa.

Walau pun terlihat kuno dan tak terawat tetapi menambah kekhasan kota ini. Gedung kuno itu bersebelahan dengan supermarket modern. Perbandingan yang sangat unik.

Jika kalian amati maka dapat ditemukan:

a. Kata kajian: arsitektur, supermarket, modern

b. Kata populer: kuno, unik, gaya

Nah, apakah yang dimaksud kata kajian dan kata populer?

Kata kajian adalah kata yang pemakainya khusus untuk kaum terpelajar, cendekiawan. Kata populer adalah kata yang pemakainya untuk masyarakat umum.

Penggunaan Kalimat Aktif-Pasif

Kalimat aktif dan pasif sebenarnya sudah kalian pergunakan. Hanya kalian belum menyadari bagaimanakah kalimat aktif dan kalimat pasif itu. Agar memahaminya perhatikan contoh berikut.

 

Kalimat Aktif

Adrian mengunjungi daerah yang terkenal dengan kupukupunya.

Wenas melaporkan peristiwa itu dengan runtut.

 

 

Kalimat Pasif

Daerah yang terkenal dengan kupu-kupunya dikunjungi Adrian.

Peristiwa itu dilaporkan Wenas dengan runtut.

Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa:

 

Kalimat aktif: – Kalimat yang subyeknya melakukan pekerjaan seperti yang disebutkan dalam

predikat.

– Predikat biasanya menggunakan imbuhan me- atau me-kan.

 

Kalimat pasif: – Subyek merupakan tujuan dari pekerjaan di dalam predikat.

– predikat biasanya menggunakan imbuhan di- atau di-kan.

Penggunaan Kata Sandang

Kata sandang adalah kata yang berfungsi menjadi penentu.

Kata ini digunakan di depan nama diri, nama kekerabatan, dan nama sifat.

Contoh : – Sang Permaisuri duduk disebelah Sang Maharaja yang bijaksana itu.

– Para kerabat dan handai taulan sudah memadati rumah pejabat itu.

bahasa petunjuk untuk membuat atau mengerjakan sesuatu.

1. Menggunakan kalimat perintah halus

Jenis kalimat yang digunakan pada bahasa petunjuk adalah kalimat perintah namun kalimat perintah halus. Salah satu ciri kalimat perintah halus adalah tidak menggunakan tanda seru pada akhir kalimat.

Misalnya:

a. Panaskan air sebanyak 3 gelas.

b. Kupas buah nanas dan potong tipis-tipis.

 

2. Menggunakan kata dengan makna lugas

Kata-kata yang digunakan dalam bahasa petunjuk adalah kata-kata dengan makna lugas, yaitu makna yang tidak dipengaruhi nilai rasa.

 

3. Tidak menimbulkan keraguan

Jika petunjuk itu menyangkut ukuran misalnya, jangan sampai menimbulkan keraguan bagi pembaca.

 

4. Menggunakan kalimat yang singkat, padat, namun jelas

Jika sebuh kalimat yang pendek mampu mengutarakan sebuh informasi, mengapa harus menggunakan kalimat yang panjang. Namun demikian, jika sebuah kalimat terpaksa harus disajikan dalam kalimat yang panjang demi kejelasan informasi maka bukan berarti harus dipendekkan juga.

BERITA

Ketika membaca berita tersebut, sebaiknya kalian memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Pelafalan kata jelas.

2. Intonasinya tepat.

3. Penempatan jeda tepat.

4. Tekanan dan volume suara sesuai.

Sebelum membaca berita tersebut, sebaiknya beri tanda sebagai berikut:

Tanda / ; (,) berhenti sebentar (jeda pendek)

Tanda // = (.) berhenti agak lama (jeda panjang)

Tanda = berlanjut pada baris berikutnya

Tanda tekanan naik

Tanda tekanan turun

→→

1. Artikulasi: persamaan konsonan

Contoh:

Berkata benar ibadah karena lidah punya Allah

Bukan beta bijak berpura

2. Asonami: persamaan vokal

Contoh:

Gerimis pada jiwa terbakar luas sabana

Tanah terbuka menemui udara dari lembah utara

3. Rima awal: persamaan bunyi pada awal larik (baris)

Contoh:

Angin bangkit bulan Agustus

Adalah kebangkitan harapan

Atas kesia-siaan putus asa

4. Rima tengah: persamaan bunyi pada tengah larik/baris

Contoh:

Jika aku seorang pujangga

maka aku tulis sebuah syair

Jika aku seorang kelana

maka aku ucap seuntai zikir

5. Rima akhir: persamaan bunyi pada akhir larik/baris

Contoh:

Kemanakah pergi

Mencari api

Ketika bara hati

Padam tak berarti

Diskusi merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih. Pembicaraan ini bertujuan mencari

kesepakatan dalam memecahkan suatu masalah.

Diskusi akan berjalan lancar jika:

1) peserta mengetahui tujuan diskusi;

2) peserta memahami masalah yang didiskusikan;

3) peserta menghormati pemimpin diskusi;

4) pemimpin diskusi mampu memimpin acara diskusi dengan adil.

Setelah menentukan bentuk forum diskusi, maka langkahlangkah selanjutnya adalah sebagai berikut.

a. Pemandu/pemimpin diskusi membuka acara.

b. Penyampaian permasalahan oleh pembicara/pemimpin diskusi.

c. Mendiskusikan kemungkinan cara memecahkan masalah tersebut.

d. Pemilihan cara pemecahan masalah.

e. Pemandu/pemimpin diskusi menutup acara hari ini.

Berikut ini cara menyampaikan persetujuan, sanggahan, dan penolakan.

Contoh menyampaikan persetujuan.

1) Menurut pendapat saya, usul Saudara sangat tepat. Saya setuju dengan usul tersebut!

2) Jika hal itu dipandang baik, saya setuju saja.

3) Baiklah, saya sependapat dan menyetujuinya.

Contoh menyanggah dalam diskusi.

1) Bagaimana mungkin suasana itu akan selesai. Sebaiknya diteliti terlebih dahulu.

2) Saya menyangsikan, bagaimana? Setujukah Saudara?

3) Saya tidak terlibat, sebab saya baru tahu sekarang.

Contoh menyampaikan penolakan.

1) Saya sangat tidak setuju, baca saja OR.

2) Benarkah harga itu? Bagaimana oleh pemimpin diskusi?

3) Wah, jangan saya deh!

DRAMA

Bentuk naskah drama memang khusus dan berbeda dari bentuk karya sastra prosa. Naskah drama merupakan cerita berupa dialog-dialog antartokoh dari satu adegan ke adegan berikutnya. Dari dialog-dialog itulah perjalanan cerita bergerak

Kesuksesan pementasan drama ternyata ditentukan dari berbagai hal, antara lain, kemampuan para pelaku dalam

memerankan tokoh, kesesuaian kostum dengan karakter tokoh, properti atau kelengkapan panggung untuk mendukung cerita.

Selain itu, keberhasilan sebuah pentas drama juga ditentukan dari kualitas naskah yang dipilih.

Naskah drama yang baik akan mudah dipahami petunjukpetunjuk teknisnya serta penanda-penanda ekspresi dalam setiap dialognya.

Karena begitu besar pengaruh naskah dalam menyukseskan pentas drama, maka pada pembelajaran kali ini kalian akan dilatih menulis naskah drama sesuai dengan aturan penulisan naskah drama.

1. Deskripsi tokoh secara rinci

Pada awal naskah drama harus dijelaskan siapa saja pelaku naskah tersebut dan pelukisan kondisi tokoh tersebut.

2. Gambaran pentas dengan kelengkapannya

Pada setiap awal adegan harus dilukiskan penggambaran panggung sebagai latar situasi. Penggambaran panggung ini akan dijadikan pedoman bagi penata panggung dalam mempersiapkan peralatan di atas panggung.

3. Petunjuk ekspresi

Petunjuk ekspresi akan dijadikan pedoman bagi pemeran dalam mengucapkan vokal, melakukan gerak, dan melakukan blocking.

PUISI

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Untuk mengenali ciri-ciri sebuah puisi, bacalah contoh berikut ini yang diambil dari buku antologi puisi. Buku antologi puisi merupakan kumpulan karya puisi pilihan dari seseorang atau beberapa orang pengarang.

Kelebihan membaca buku antologi puisi adalah pembaca dapat menemukan beberapa puisi unggulan dari beberapa pengarang.

a. Rima

Rima merupakan pola sajak atau persamaan bunyi pada larik suatu puisi. Rima menurut letaknya dibagi menjadi rima awal, tengah, dan akhir.

b. Irama

Irama dapat juga berarti pergantian, keras lembut, atau panjang pendek kata secara berulang-ulang dengan tujuan

menciptakan gelombang yang memperindah puisi.

Contoh:

c. Pilihan kata

Kata-kata yang dipasangkan dengan kata-kata tertentu sehingga menimbulkan suasana yang lebih sesuai.

d. Makna kata

Makna kata di dalam puisi dibagi dua yaitu makna denotasi dan makna konotasi. Kata ‘Pagiku hilang sudah melayang’, kata ‘Pagiku’ bermakna konotasi yaitu masa muda.

1. Artikulasi: persamaan konsonan

Contoh:

Berkata benar ibadah karena lidah punya Allah

Bukan beta bijak berpura

2. Asonami: persamaan vokal

Contoh:

Gerimis pada jiwa terbakar luas sabana

Tanah terbuka menemui udara dari lembah utara

3. Rima awal: persamaan bunyi pada awal larik (baris)

Contoh:

Angin bangkit bulan Agustus

Adalah kebangkitan harapan

Atas kesia-siaan putus asa

4. Rima tengah: persamaan bunyi pada tengah larik/baris

Contoh:

Jika aku seorang pujangga

maka aku tulis sebuah syair

Jika aku seorang kelana

maka aku ucap seuntai zikir

5. Rima akhir: persamaan bunyi pada akhir larik/baris

Contoh:

Kemanakah pergi

Mencari api

Ketika bara hati

Padam tak berarti

Diskusi merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih. Pembicaraan ini bertujuan mencari

kesepakatan dalam memecahkan suatu masalah.

Diskusi akan berjalan lancar jika:

1) peserta mengetahui tujuan diskusi;

2) peserta memahami masalah yang didiskusikan;

3) peserta menghormati pemimpin diskusi;

4) pemimpin diskusi mampu memimpin acara diskusi dengan adil.

Diskusi kelompok sering dilakukan dengan bentuk forum berikut ini:…..

Setelah menentukan bentuk forum diskusi, maka langkahlangkah selanjutnya adalah sebagai berikut.

a. Pemandu/pemimpin diskusi membuka acara.

b. Penyampaian permasalahan oleh pembicara/pemimpin diskusi.

c. Mendiskusikan kemungkinan cara memecahkan masalah tersebut.

d. Pemilihan cara pemecahan masalah.

e. Pemandu/pemimpin diskusi menutup acara hari ini.

Berikut ini cara menyampaikan persetujuan, sanggahan, dan penolakan.

Contoh menyampaikan persetujuan.

1) Menurut pendapat saya, usul Saudara sangat tepat. Saya setuju dengan usul tersebut!

2) Jika hal itu dipandang baik, saya setuju saja.

3) Baiklah, saya sependapat dan menyetujuinya.

Contoh menyanggah dalam diskusi.

1) Bagaimana mungkin suasana itu akan selesai. Sebaiknya diteliti terlebih dahulu.

2) Saya menyangsikan, bagaimana? Setujukah Saudara?

3) Saya tidak terlibat, sebab saya baru tahu sekarang.

Contoh menyampaikan penolakan.

1) Saya sangat tidak setuju, baca saja OR.

2) Benarkah harga itu? Bagaimana oleh pemimpin diskusi?

3) Wah, jangan saya deh!

1. Tema novel

Novel dibangun berdasarkaan unsur-unsur intrinsik yang meliputi tema, amanat, latar, penokohan, dan sudut

pandang. Adapun, yang dimaksud tema adalah permasalahan pokok (utama) yang merupakan landasan

dalam penyusunan cerita sekaligus permasalahan yang ingin disampaikan pengarang melalui karya tersebut.

2. Latar/setting

Selain tema, unsur pembangun novel yang lain adalah latar atau setting. Latar atau setting adalah waktu dan tempat terjadinya peristiwa. Dengan adanya setingg, pembaca dapat  menggambarkan kapan dan dimana peristiwa itu terjadi.

Novel terjemahan merupakan novel yang dikarang oleh pengarang asing atau novel yang diterjemahkan dari suatu

bahasa ke bahasa lain.

Pembawa acara atau MC (Master of Ceremoni)

mempunyai tugas penting dalam pelaksanaan suatu acara. Mengapa? Karena pembawa acara merupakan

orang yang harus mampu menciptakan susana akrab, tertib dan meriah. Selain itu, juga bertanggung jawab

atas lancarnya acara demi acara.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pembawa acara, yaitu:

a. Pelafalan

Pembawa harus mampu melafalkan /mengucapkan

bunyi-bunyi bahasa secara tepat.

Contoh: Saudara —> bukan sodara

Mufakat —> bukan mupakat

b. Diksi

Pembawa acara hendaknya mampu memilih kata yang disesuaikan dengan pendengarnya. Kata-kata yang

digunakan tepat, jelas, dan bervariasi. Hal yang paling penting adalah mudah dimengerti.

Contoh: Kata ‘kerja sama’ lebih mudah dimengerti dari pada ‘sinergi’

Kata ‘tepat’ lebih mudah dari kata ‘efektif’

Kata ‘hemat’ lebih mudah dari kata ‘efisien’

c. Intonasi

Intonasi meliputi tekanan, nada, tempo, dan jeda. Tekanan menyangkut keras lembutnya suara, nada berkaitan dengan tinggi rendahnya suara, tempo berhubungan dengan cepat lambatnya bicara, dan jeda menyangkut penghentian.

d. Penampilan

Pembawa acara harus percaya diri, jangan terlihat ragu-ragu dan mampu bersikap santun. Kesantunan sikap akan

menimbulkan rasa simpati.

Penahapan Alur

a. Pemaparan:pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya, tempat kejadian, dan waktu peristiwa.

b. Penampilan masalah : masalah mulai menimpa tokohtokohnya.

c. Masalah memuncak : masalah mulai gawat

d. Puncak ketegangan : masalah semakin rumit

e. Ketegangan menurun : masalah mulai mereda

f. Penyelesaian : permasalahan berakhir dengan bahagia, sedih, atau mengambang.

Pada pelajaran lalu, kalian telah belajar tentang latar dan alur.

Latar adalah waktu dan tempat terjadinya peristiwa. Adapun alur adalah jalinan peristiwa yang diwujudkan dalam

hubungan waktu dan sebab akibat

Selain alur dan latar, unsur penting lainnya adalah pelaku.

Pelaku merupakan unsur penting yang mampu menghidupkan cerita. Pelaku dalam novel dibagi 2 yaitu.

a. Pelaku utama

Pelaku yang menjadi pusat pengisahan. Pelaku ini sering muncul dan menjadi pembicaraan

b. Pelaku sampingan

Pelaku yang pemunculannya hanya sekali atau beberapa kali saja. Pelaku tersebut hanya sebagai pelengkap sehingga tidak menjadi pusat pembicaraan.

Poster dan Slogan

a. Poster

Poster merupakan plakat atau tempelan yang biasanya berisi pengumuman dan ditempel di tempat-tempat umum. Bahasa yang digunakan dalam poster haruslah singkat, mudah dimengerti, dan mudah diingat. Selain itu, harus menarik perhatian bagi orang yang melihat dan membacanya

b. Slogan

merupakan kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat. Slogan biasanya bertujuan

menumbuhkan semangat atau motivasi.

Contoh: Sekali merdeka, tetap merdeka

  Sekali di udara, tetap di udara TVRI menjalin persatuan dan kesatuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s